Visi:
"PENINGKATAN MUTU DAN KAPASITAS KADER MELALUI PENGUATAN BASIC KEILMUAN DAN BUDAYA ILMIAH MENUJU PENGUATAN KELEMBAGAAN SEBAGAI BENTUK PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT"

Misi:

1. PENGUATAN BASIC INTELEKTUALITAS DAN BUDAYA ILMIAH DARI KADER

2. MENUMBUHKAN SEMANGAT BERLEMBAGA KEMA MELALUI PROSES PENGKADERAN DAN PERGERAKAN

3. MEMBANGUN HUBUNGAN KOMUNIKASI YANG BAIK ANTAR KEMA EKONOMI.

Sabtu, 03 September 2011

Term of Reference KAPITAL '11

Term of Reference (TOR) Pengkaderan Awal tingkat Senat Mahasiswa FE-UH KAPITAL 2011

Organisasi kemahasiswaan adalah cermin aktualisasi fungsi mahasiswa sebagai kaum intelektual yang menjunjung tinggi idealisme dan moralitas. Organisasi kemahasiswaan yang menjadi tempat mahasiswa berproses dengan belajar berbasis pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan kepemudaan dengan sejarahnya masing-masing. Sejarah gerakan kepemudaan di Indonesia mencatat berbagai peran pemuda dalam melakukan perubahan, diawali dengan terbentuknya Boedi Oetomo, sebuah organisasi kepemudaan yang mengarah kepada kemajuan bangsa. Perkumpulan yang beranggotakan para pelajar STOVIA (sekolah kedokteran yang ada di batavia) ini lahir dari pemikiran kritis para pemuda pada waktu itu yang melihat berbagai kemunduran akibat kolonialisme Belanda dan bertujuan untuk memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, serta kebudayaan. Berdirinya Boedi Oetomo kemudian memicu para pelajar lain untuk mengorganisir dirinya dan kemudian membentuk berbagai organisasi kepemudaan dengan melepaskan diri dari kolonialisme Belanda sebagai tujuan utamanya.

Mohammad Hatta, salah satu bapak pendiri sekaligus wakil presiden pertama Indonesia, dalam masa mudanya ketika masih menjadi pelajar di Belanda telah mendirikan organsiasi kepemudaan yang bernama Indische Vereeninging. Perkumpulan yang lebih dikenal dengan Perhimpunan Indonesia ini dibentuk dengan tujuan memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia serta memajukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di Indonesia. Saat beberapa anggotanya yang masih menjadi pelajar di Belanda kembali ke Indonesia mereka membentuk kelompok-kelompok studi, antara lain Kelompok Studi Indonesia yang dibentuk di Surabaya oleh Soetomo dan Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) yang direalisasikan oleh Soekarno beserta para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung. Dari sinilah muncul berbagai kelompok-kelompok yang kemudian berkumpul dalam Kongres Pemuda II dan melahirkan berbagai kesepakatan yang sekarang banyak dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Selain dari semua yang telah disebutkan diatas para pemuda juga memiliki andil pada kemerdekaan Indonesia, dimotori oleh Chairul Saleh serta Soekarni mereka bergerak dengan metode bawah tanah menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tidak berhenti disitu, perjuangan pemuda mahasiswa juga terjadi setelah kemerdekaan. Perjuangan dalam menanggapi isu-isu sosial kemasyarakatan terlihat dalam beberapa momentum, seperti ketika menjatuhkan rezim orde lama, dimana tokoh pemuda mahasiswa yang mengemuka pada waktu itu adalah Soe Hok Gie. Setelah itu represi terhadap gerakan mahasiswa gencar dilakukan oleh rezim orde baru dengan mengerahkan militer untuk mengawasi segala hal yang dilakukan oleh mahasiswa, hal ini kembali membuat mahasiswa mengerahkan metode gerakan bawah tanah untuk mempersiapkan perjuangan melawan represi orde baru. Puncaknya, saat terjadi gerakan besar dipicu oleh krisis moneter yang mengakibatkan menurunnya kesejahteraan rakyat, seluruh elemen organisasi kepemudaan bersatu bersama masyarakat dalam menumbangkan orde baru yang dinilai gagal menjalankan amanat rakyat. Yang patut ditekankan disini adalah bahwa sejarah tersebut tidak pernah mereduksi peran-peran seluruh golongan masyarakat lain seperti kaum buruh, kaum tani dan kaum miskin dalam perubahan sosial. Golongan masyarakat inilah yang sebenarnya sangat berperan dalam pembangunan bangsa kita, pemuda mahasiswa hanya tampil dengan berbekal kemampuan intelektualitasnya.

Tanggung jawab atas intelektualitas yang melekat pada segenap pemuda mahasiswa tercermin dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, ketiga aspek ini yang menjadi landasan pemuda mahasiswa dalam menjalankan kesehariannya. Namun, idealisme tersebut agaknya mulai direduksi oleh berbagai tindakan atau perlakuan yang sangat melenceng dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, terlihat dari maraknya kasus tawuran dan perkelahian antar mahasiswa, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai kasus yang menjurus ke arah kriminal lainnya. Hal lain yang tidak kalah menakutkannya adalah ketika mahasiswa hanya menghabiskan banyak waktunya di pusat perbelanjaan daripada belajar, budaya bermewah-mewahan atau hedonisme, serta sikap apatis mahasiswa terhadap lingkungan sosial kemasyarakatan sekitarnya. Berbagai hal inilah yang mengurangi intelektualitas, integritas, serta tanggung jawab para mahasiswa dan tidak bisa dipungkiri berbagai hal yang tersebut telah mengemuka belakangan ini. Jelas, hal ini akan mengaburkan tugas dan jati diri mahasiswa itu sendiri dan gambaran di atas sangat jauh bertolak belakang dengan gambaran pemuda mahasiswa seperti yang kita lihat pada masa sebelumnya. Dengan kata lain kita tidak akan pernah lagi mendapati para pemuda seperti Soekarno, Hatta, Soe Hok Gie serta pemuda lain yang dengan intelektualitas serta semangat progresifnya mampu mendorong perubahan di Indonesia. Kita hanya akan mendapati para pemuda mahasiswa di pusat-pusat perbelanjaan menghabiskan uang serta tertawa untuk hal-hal yang sangat tidak substansial untuk mereka lakukan. Melihat hal tersebut perlu adanya suatu wadah dimana nilai luhur perguruan tinggi tetap terjaga demi suatu pencapaian yang riil untuk kemajuan masyarakat.
Organisasi kemahasiswaan sebagai wadah kolektifitas mahasiswa bertugas untuk membangun kekuatan mahasiswa sebagaimana yang tergambar dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan kerja-kerja kolektif di organisasi kemahasiswaan tentunya pembangunan karakter mahasiswa yang intelek dan bertanggung jawab dapat lebih terarah. Secara lebih terperinci nilai-nilai yang ingin ditonjolkan untuk membangun karakter mahasiswa seperti yang tergambar di atas tidak boleh melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan, nilai kemanusiaan inilah yang kemudian menjadi ruh dalam setiap gerak di organisasi kemahasiswaan. Maka dengan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan inilah, prosesi pengkaderan sebagai alat penyampai nilai tersebut kepada seluruh mahasiswa menjadi rutinitas dalam organisasi kemahasiswaan. Poin inilah yang belakangan ini sering dilupakan oleh orang-orang yang bergerak di organisasi kemahasiswaan dalam menjalankan proses pengkaderan. Nuansa pengkaderan yang selama ini diidentikkan dengan kekerasan dan perpeloncoan menjadi momok dalam setiap pelaksanaannya, sehingga permasalahan ini menjadi perhatian utama kami dalam menciptakan konsep dan pada pengawalan pelaksanaan kegiatan pengkaderan. Kecenderungan yang terjadi belakangan ini telah menuju ke arah positif, budaya primitif tersebut dapat digantikan dengan budaya yang menonjolkan semangat kebersamaan dan intelektualitas. Proses pengkaderan inilah yang menjadi poin penting dalam kerja organisasi yang kemudian bertujuan menjaga nilai luhur dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang semakin tereduksi ataupun tergeser oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. Tanpa pengkaderan mustahil nilai luhur dalam Tri Dharma

Perguruan Tinggi dapat tersalurkan dengan baik.
Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unhas (SEMA FE-UH) merupakan organisasi kemahasiswaan yang berorientasi kepada pembangunan karakter mahasiswa sebagaimana yang tercermin dalam Tri Dharma perguruan Tinggi. Sebagaimana visi SEMA FE-UH periode 2011-2012 yaitu Peningkatan Mutu dan Kapasitas Kader Melalui Penguatan Basic Keilmuan menuju Penguatan Kelembagaan Sebagai Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat. Semangat intelektualitas menuju pengabdian kepada masyarakat menjadi inti dari visi yang dibawa SEMA FE-UH. Maka dari itu, proses pengkaderan yang dilakukan oleh SEMA FE-UH bertujuan untuk menanamkan semangat intelektualitas serta pengabdian kepada masyarakat pada setiap kadernya. SEMA FE-UH memiliki empat tahapan pengkaderan yang ditetapkan untuk semua kadernya yaitu, Pengkaderan Awal tingkat SEMA FE-UH, Pengkaderan Awal tingkat ORMAJU (Organisasi Mahasiswa Jurusan), Pra Latihan Kepemimpinan, dan Latihan Kepemimpinan. Dalam tiap tahapan tersebut terdapat beberapa penekanan yang berbeda. Pengkaderan awal tingkat SEMA FE-UH lebih diarahkan pada pengenalan lingkungan kampus. Tidak bisa dipungkiri bahwa peralihan dari masa SMA sampai kepada kuliah memerlukan beberapa bentuk penyesuaian. Maka dari itu, Pengkaderan Awal tingkat SEMA FE-UH ingin mengenalkan gambaran mahasiswa sebagaimana amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pengkaderan Awal tingkat SEMA FE-UH untuk tahun ini bernama KAPITAL (Kaderisasi; Penanaman Nilai Tahap Awal) 2011, dengan tema Membangun Relasi Intelektualitas menuju Konsistensi Berlembaga dalam Khazanah Kemanusiaan. Dari tema ini ada beberapa poin yang ingin ditekankan seperti, membangun relasi intelektualitas, konsistensi berlembaga, dan dibingkai dalam khazanah kemanusiaan. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, kami ingin mengenalkan gambaran mahasiswa yang ideal. Pembangunan relasi intelektualitas berbicara tentang bagaimana membangun semangat intelektualitas mahasiswa sebagaimana ciri khas mahasiswa itu sendiri dan tentunya harus dengan ciri mahasiswa ekonomi yaitu dengan basis keilmuan ekonomi. Basis keilmuan itu sendiri harus dilengkapi dengan pembangunan kesadaran kritis, hal ini dimaksudkan agar dalam mengkaji segala fenomena yang ada kita akan berpikir lebih analitis, objektif, dan kritis. Maksudnya adalah dengan kesadaran kritis seseorang akan menelaah suatu fenomena secara lebih mendalam dan sifatnya menyeluruh. Jadi, basis keilmuan ekonomi bisa dihubungkan dengan berbagai fenomena yang ada baik itu dalam ranah politik, budaya, hukum, dan sebagainya. Membangun kebersamaan antara seluruh mahasiswa menjadi salah satu poin untuk tahap ini sehingga diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang timbul akibat perbedaan-perbedaan etnis, ras, suku, maupun agama. Setelah pembangunan intelektualitas dicapai maka diharapkan kader yang terbentuk adalah kader yang mempunyai konsistensi berlembaga. Konsistensi berlembaga yang dimaksudkan adalah kader yang dengan intelektualitasnya mempunyai integritas yang dapat diandalkan untuk turut membangun Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi UNHAS dalam mencapai tujuannya. Tampakan kader yang dilihat disini adalah kader yang memiliki kedisiplinan serta tanggung jawab akan segala kapasitas yang dimilikinya. Terakhir adalah seluruh proses ini dibingkai dalam khazanah kemanusiaan dimana diharapkan dari proses ini tercipta manusia-manusia yang dengan segala potensinya dapat berpengaruh di lingkungan sekitarnya.

Nama Kegiatan
KAPITAL 2011 (Kaderisasi; Penanaman Nilai Tahap Awal) 2011,

Tema Kegiatan
Membangun Relasi Intelektualitas menuju Konsistensi Berlembaga dalam Khazanah Kemanusiaan.

Tujuan kegiatan
Prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru dan Pengenalan Kondisi Kampus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar