Visi:
"PENINGKATAN MUTU DAN KAPASITAS KADER MELALUI PENGUATAN BASIC KEILMUAN DAN BUDAYA ILMIAH MENUJU PENGUATAN KELEMBAGAAN SEBAGAI BENTUK PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT"

Misi:

1. PENGUATAN BASIC INTELEKTUALITAS DAN BUDAYA ILMIAH DARI KADER

2. MENUMBUHKAN SEMANGAT BERLEMBAGA KEMA MELALUI PROSES PENGKADERAN DAN PERGERAKAN

3. MEMBANGUN HUBUNGAN KOMUNIKASI YANG BAIK ANTAR KEMA EKONOMI.

Kamis, 29 September 2011

Penerimaan Peserta Studi Banding








Universitas : STIE Palopo
Kota Asal : Palopo
Hari / tanggal : Jumat, 23 September 2011
Waktu : 08.30 – 11.45
Jumlah peserta : 68 orang
Bentuk Kegiatan : Dialog dan diskusi





Rabu, 21 September 2011

MERAH PUTIH EKONOMI INDONESIA



Oleh : Ady Suriadi ( Sekjend Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia )

Secara harfiah arti kata merdeka adalah “ Bebas”. Di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tercinta yang ke 66, tentu menjadi pertanyaan bagi kita semua apakah Indonesia sudah mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya atau kita sebenarnya masih dijajah, walau secara tampakan fisik kita terbebas dari penjajahan itu, Namun kita tidak bisa menutup mata di usianya yang ke 66, Indonesia masih dijajah secara ekonomi, Ini terbukti Dominasi asing semakin kuat pada sektor – sektor strategis, mulai dari sektor keuangan, energi, sumber daya mineral, telekomunikasi , serta perkebunan. Sehingga dengan dominasi asing tersebut seringkali kepentingan masyarakat Indonesia tersandera oleh kepentingan mereka.

Berdasarkan data yang ada, Pihak asing telah menguasai 50,6 persen aset perbankan nasional sehingga sekitar Rp. 1.551 triliun dari aset total perbankan nasional Rp. 306 triliun dikuasai asing . Tak hanya perbankan, asuransi juga didominasi asing. Dari 45 perusahaan asuransi jiwa yang beroperasi di Indonesia tak sampai setengahnya yang murni milik Indonesia, kalau dikelompokkan dari asuransi yang ekuitasnya diatas Rp.750 Miliar hampir semunya usaha patungan. Dari sisi perolehan premi lima besarnya adalah perusahaan asing.

Dari Sektor petambangan Asing menguasai 75 persen pertambangan kita,Industri telekomunikasi juga demikian parah karena asing sudah hampir menguasai keseluruhan jasa telekomunikasi yang ada di negeri ini.berdasarkan catatan yang ada, 6 perusahaan penyedia jasa telekomunikasi sudah dikuasai oleh asing dengan kepemilikan yang bervariasi sebagai berikut : SmartFren telecom 23,91 %, Telkomsel 35 %, Hutchinson 60 % , Indosat 70,14 %, XL Axiata 80 %, Natrindo 95 %. Sektor Industri kelapa sawit juga tidak ketinggalan sudah sikuasai oleh berbagai perusahaan dari negara asing. Guthrie Bhd ( Malaysia ) menguasai 167.908 hektar , Wilmar Internatioal Group ( Singapura ) menguasai 85.000 hektar, Hindoli – Cargil ( Amerika Serikat ) menguasai 63.455 hektar, Kuala Lumpur Kepong Bhd (Malaysia ) menguasai 45.714 hektar, SIPEF Group ( Belgia ) menguasai 30.952 hektar, dan Golden Hope Group ( Malaysia ) menguasai 12.810 hektar
Bukan itu saja,di pasar modal kepemilikan investor asing mencapai 60-70 % dari semua saham perusahaan yang diperdagangkan di bursa efek . BUMN juga demikian, dari semua BUMN yang telah diprivatisasi kepemilikan asing sudah mencapai 60 persen, dan yang lebih parah lagi adalah sector minyak dan gas. Porsi operator minyak dan gas sekitar 25 % selebihnya 75 % dikuasi oleh asing.

Utang Indonesia juga semakin tinggi yang hingga bulan juli 2011 mencapai Rp. 1.733,64 triliun ,dan sepertinya akan terus mangalami peningkatan setiap bulan. dibanding dari bulan Juni 2011 Utang Indonesia Rp 1.723,9 triliun, dan pada bulan Mei Rp 1.716,56 triliun, dan Rp 1.676,85 pada Desember 2010.
Kalau pendahulu kita rela mengorbankan jiwa raganya demi sejengkal tanah air Indonesia, semestinya kita yang hidup dinegeri yang kaya raya ini harus berupaya untuk menegakkan kedaulatan ekonomi Indonesia tanpa harus “ menete “ dari pihak asing, walau kita juga tidak bisa menafikkan bahwa kita butuh kerjasama ekonomi internasional tentu dengan takaran yang proporsional bukan malah menciptakan ketergantungan.
Walau berbagai fenomena social yang terkadang menimbulkan kekesalan kolektif terhadap keadaan dan penguasa serta tidak jarang peristiwa menabur benih pesimisme, Di hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ini semoga suatu saat Indonesia bisa bangkit berdiri di atas kakinya sendiri ( MERAH PUTIH EKONOMI INDONESIA ).

Maha – Siswa

Oleh : Ady Suriadi*

“Tugas kita sebagai intelektual adalah menciptakan sejarah
dengan membangun gerakan pemikiran dan
kesadaran kritis untuk memberi makna masa depan kita sendiri”
(Alm. Mansour Faqih)

Ketika masih duduk dibangku sekolah seorang siswa diperhadapkan dengan berbagai pilihan untuk menjadi apa saja dan bagaimana mencapai pilihan tersebut. Keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pun jelaslah bukan akhir dari berbagai pilihan. Dengan keputusan menjadi seorang mahasiswa ternyata makin memperpanjang daftar pilihan hidup. Karena dengan begitu artinya status, karakter, dan tanggung jawab akan bertambah, dan tak dapat dipungkiri ini merupakan suatu potensi yang sangat besar untuk menghadirkan berbagi konflik dalam diri mahasiswa.

Dalam konteks psikologi, masa-masa menjadi mahasiswa adalah waktu di mana aturan-aturan yang ketat yang kemudian menjadi media penghambat libido dan hasrat seseorang. Dalam psikologi disebut dengan istilah Fiksasi, ini semakin mengendur atau semakin pudar, dan bukan tidak mungkin ini akan melahirkan efek yang meledak-ledak atau yang biasa disebut dengan istilah Katarsis. Sebagai contoh, pada waktu dibangku sekolah, seorang siswa harus menjalani suatu rutinitas yang secara ketat diatur oleh pihak sekolah, seperti jam masuk, jam pulang dan pakaian seragam serta berbagai aturan lain yang benar-benar membatasi gerak seorang siswa. Belum lagi aturan rumah yang tak kalah ketatnya, akibat anggapan bahwa seorang siswa belum cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri. Inilah yang dimaksud dengan fiksasi. Dan ketika siswa tersebut masuk ke dalam dunia kampus di mana tidak ada lagi aturan yang begitu ketatnya maka ini bisa saja menjadi ruang yang tepat untuk melakukan apa saja yang mungkin dianggap “tabu” ketika masih duduk di bangku sekolah, baik itu bermanfaat ataupun sebaliknya.

Ungkapan hidup ini adalah pilihan dan setiap pilihan pasti ada koskwensinya masing – masing,sangatlah tepat untuk digunakan untuk memaknai pilihan untuk menjadi “maha”siswa. Berdasarkan data yang ada, setiap tahunnya ( baca angkatan ) terdapat 4.600.000 orang yang masuk bangku Sekolah Dasar dan pada angkatan yang sama jumlah siswa yang memasuki bangku pendidikan tinggi hanya 292.000 orang, ini berarti ada selisih 4.308.000 orang. Selisih itulah yang tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi yang disebabkan karena banyak factor termasuk kendala biaya. Meminjam istilah bapak Anies Baswedan ( pendiri Yayasan Indonesia Mangajar ) “kita yang pernah dan merasakan bangku perkuliahan adalah termasuk orang – orang yang beruntung karena termasuk jumlah yang kecil yang bisa merasakan pendidikan Tinggi yang hanya bisa menjadi impian bagi orang – orang yang tidak bisa mancapainya”. Status beruntung itu tentu menjadi predikat yang mesti dipertanggung jawabkan karena tentu disadari bahwa jumlah 4.308.000 orang. Adalah termasuk mereka yang keterbatasan biaya ( warga yang pendapatannya hanya untuk memenuhi kehidupan sehari – hari ), maka dari itu orang – orang yang “ beruntung “ itu haruslah bertanggung jawab atas statusnya sebagai mahasiswa untuk berbuat sesuatu yang bisa bermanfaat bagi sesama mahluk Ciptaan Tuhan khususnya bagi mereka yang termarjinalkan secara ekonomi dan pendidikan.

Memasuki kerajaan ilmu yang bernama Universitas, Mahasiswa diperhadapkan pada tanggung jawab bukan hanya Tri Darma Perguruan Tinggi ( Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian pada masyarakat ) tapi lebih dari itu seorang yang mengaku sebagai kaum intelektual ( baca mahasiswa ) senantiasa dituntut secara moral untuk menjalankan fungsi Agent Of Change, social control and moral force, sehingga menjadi wajib hukumnya bagi sang mahasiswa melakukan pembelaan terhadap segala bentuk penindasan yang terjadi di sekitarnya karena sudah merupakan taggung jawab sosial bagi dirinya, namun mahasiswa tidaklah cukup dengan Mengepalkan tangan dan berteriak kemudian melupakan kompetensi yang semestinya dimiliki. Seorang Mahasiswa juga dituntut untuk menguasai bidang ilmu yang tentu mutakhir, menguasai kemampuan bahasa asing, serta membangun jaringan dengan dunia luar, karena dengan itu Mahasiswa akan menentukan masa depannya sendiri.Kenapa harus bersinergi antara kewajiban, fungsi,Tanggung jawab, serta tuntutan zaman bagi Mahasiswa?? Karena IPK yang tinggi hanya akan mengantarkan anda sampai memenuhi panggilan wawancara (titik).sedangkan di meja wawancara yang menentukan adalah kemampuan komunikasi, analithical Thingking, Organizational Eksperience, serta jiwa Kepemimpinan yang Mahasiswa miliki, dan itu didapatkan bukan di meja kuliah saja, tetapi butuh tempat lain ( lembaga mahasiswa dan realitas social ) untuk menemukannya, walau itu tidak bisa dijadikan alasan IPK rendah.
(Suryadi_harun@yahoo.co.id)

*Sekjend Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia



Senin, 05 September 2011

RUNDOWN KEGIATAN KAPITAL '11

Rundown Kegiatan Pra Pengkaderan Awal Tingkat SENAT MAHASISWA FE UH
KAPITAL '11


Hari/Tanggal : Sabtu/10 September 2011
08.00 - 09.15 Pengumpulan
09.15 - 11.45 Materi "Potensi Kecerdasan Manusia"
11.45 - 12.00 Pengumpulan
12.00 - 13.00 Ishoma
13.00 - 13.15 Pengumpulan
13.15 - 15.15 Materi "Kemanusiaan"
15.15 - 15.30 Persiapan pulang - pulang …..


Hari/Tanggal : Minggu/11 September 2011
09.00 - 10.15 Pengumpulan
10.15 - 12.15 Materi "Kesadaran Kritis"
12.15 - 13.00 Ishoma
13.00 - 13.15 Pengumpulan
13.15 - 14.15 Games
14.15 - 15.30 Persiapan pulang - pulang …..

Hari/Tanggal : Sabtu/17 September 2011
08.00 - 09.15 Pengumpulan
09.15 - 11.45 Materi "Etika Moralitas"
11.45 - 12.00 Pengumpulan
12.00 - 13.00 Ishoma
13.00 - 14.00 Persiapan pulang - pulang …..

Hari/Tanggal : Minggu/18 September 2011
09.00 - 10.15 Pengumpulan
10.15 - 12.15 Materi "Identitas Mahasiswa"
12.15 - 13.00 Ishoma
13.00 - 13.15 Pengumpulan
13.15 - 14.15 Diskusi pra tugas Keekonomian
14.15 - 15.00 Persiapan pulang - pulang …..

Sabtu, 03 September 2011

Term of Reference KAPITAL '11

Term of Reference (TOR) Pengkaderan Awal tingkat Senat Mahasiswa FE-UH KAPITAL 2011

Organisasi kemahasiswaan adalah cermin aktualisasi fungsi mahasiswa sebagai kaum intelektual yang menjunjung tinggi idealisme dan moralitas. Organisasi kemahasiswaan yang menjadi tempat mahasiswa berproses dengan belajar berbasis pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan kepemudaan dengan sejarahnya masing-masing. Sejarah gerakan kepemudaan di Indonesia mencatat berbagai peran pemuda dalam melakukan perubahan, diawali dengan terbentuknya Boedi Oetomo, sebuah organisasi kepemudaan yang mengarah kepada kemajuan bangsa. Perkumpulan yang beranggotakan para pelajar STOVIA (sekolah kedokteran yang ada di batavia) ini lahir dari pemikiran kritis para pemuda pada waktu itu yang melihat berbagai kemunduran akibat kolonialisme Belanda dan bertujuan untuk memajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, serta kebudayaan. Berdirinya Boedi Oetomo kemudian memicu para pelajar lain untuk mengorganisir dirinya dan kemudian membentuk berbagai organisasi kepemudaan dengan melepaskan diri dari kolonialisme Belanda sebagai tujuan utamanya.

Mohammad Hatta, salah satu bapak pendiri sekaligus wakil presiden pertama Indonesia, dalam masa mudanya ketika masih menjadi pelajar di Belanda telah mendirikan organsiasi kepemudaan yang bernama Indische Vereeninging. Perkumpulan yang lebih dikenal dengan Perhimpunan Indonesia ini dibentuk dengan tujuan memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia serta memajukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di Indonesia. Saat beberapa anggotanya yang masih menjadi pelajar di Belanda kembali ke Indonesia mereka membentuk kelompok-kelompok studi, antara lain Kelompok Studi Indonesia yang dibentuk di Surabaya oleh Soetomo dan Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) yang direalisasikan oleh Soekarno beserta para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung. Dari sinilah muncul berbagai kelompok-kelompok yang kemudian berkumpul dalam Kongres Pemuda II dan melahirkan berbagai kesepakatan yang sekarang banyak dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Selain dari semua yang telah disebutkan diatas para pemuda juga memiliki andil pada kemerdekaan Indonesia, dimotori oleh Chairul Saleh serta Soekarni mereka bergerak dengan metode bawah tanah menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tidak berhenti disitu, perjuangan pemuda mahasiswa juga terjadi setelah kemerdekaan. Perjuangan dalam menanggapi isu-isu sosial kemasyarakatan terlihat dalam beberapa momentum, seperti ketika menjatuhkan rezim orde lama, dimana tokoh pemuda mahasiswa yang mengemuka pada waktu itu adalah Soe Hok Gie. Setelah itu represi terhadap gerakan mahasiswa gencar dilakukan oleh rezim orde baru dengan mengerahkan militer untuk mengawasi segala hal yang dilakukan oleh mahasiswa, hal ini kembali membuat mahasiswa mengerahkan metode gerakan bawah tanah untuk mempersiapkan perjuangan melawan represi orde baru. Puncaknya, saat terjadi gerakan besar dipicu oleh krisis moneter yang mengakibatkan menurunnya kesejahteraan rakyat, seluruh elemen organisasi kepemudaan bersatu bersama masyarakat dalam menumbangkan orde baru yang dinilai gagal menjalankan amanat rakyat. Yang patut ditekankan disini adalah bahwa sejarah tersebut tidak pernah mereduksi peran-peran seluruh golongan masyarakat lain seperti kaum buruh, kaum tani dan kaum miskin dalam perubahan sosial. Golongan masyarakat inilah yang sebenarnya sangat berperan dalam pembangunan bangsa kita, pemuda mahasiswa hanya tampil dengan berbekal kemampuan intelektualitasnya.

Tanggung jawab atas intelektualitas yang melekat pada segenap pemuda mahasiswa tercermin dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, ketiga aspek ini yang menjadi landasan pemuda mahasiswa dalam menjalankan kesehariannya. Namun, idealisme tersebut agaknya mulai direduksi oleh berbagai tindakan atau perlakuan yang sangat melenceng dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, terlihat dari maraknya kasus tawuran dan perkelahian antar mahasiswa, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai kasus yang menjurus ke arah kriminal lainnya. Hal lain yang tidak kalah menakutkannya adalah ketika mahasiswa hanya menghabiskan banyak waktunya di pusat perbelanjaan daripada belajar, budaya bermewah-mewahan atau hedonisme, serta sikap apatis mahasiswa terhadap lingkungan sosial kemasyarakatan sekitarnya. Berbagai hal inilah yang mengurangi intelektualitas, integritas, serta tanggung jawab para mahasiswa dan tidak bisa dipungkiri berbagai hal yang tersebut telah mengemuka belakangan ini. Jelas, hal ini akan mengaburkan tugas dan jati diri mahasiswa itu sendiri dan gambaran di atas sangat jauh bertolak belakang dengan gambaran pemuda mahasiswa seperti yang kita lihat pada masa sebelumnya. Dengan kata lain kita tidak akan pernah lagi mendapati para pemuda seperti Soekarno, Hatta, Soe Hok Gie serta pemuda lain yang dengan intelektualitas serta semangat progresifnya mampu mendorong perubahan di Indonesia. Kita hanya akan mendapati para pemuda mahasiswa di pusat-pusat perbelanjaan menghabiskan uang serta tertawa untuk hal-hal yang sangat tidak substansial untuk mereka lakukan. Melihat hal tersebut perlu adanya suatu wadah dimana nilai luhur perguruan tinggi tetap terjaga demi suatu pencapaian yang riil untuk kemajuan masyarakat.
Organisasi kemahasiswaan sebagai wadah kolektifitas mahasiswa bertugas untuk membangun kekuatan mahasiswa sebagaimana yang tergambar dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan kerja-kerja kolektif di organisasi kemahasiswaan tentunya pembangunan karakter mahasiswa yang intelek dan bertanggung jawab dapat lebih terarah. Secara lebih terperinci nilai-nilai yang ingin ditonjolkan untuk membangun karakter mahasiswa seperti yang tergambar di atas tidak boleh melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan, nilai kemanusiaan inilah yang kemudian menjadi ruh dalam setiap gerak di organisasi kemahasiswaan. Maka dengan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan inilah, prosesi pengkaderan sebagai alat penyampai nilai tersebut kepada seluruh mahasiswa menjadi rutinitas dalam organisasi kemahasiswaan. Poin inilah yang belakangan ini sering dilupakan oleh orang-orang yang bergerak di organisasi kemahasiswaan dalam menjalankan proses pengkaderan. Nuansa pengkaderan yang selama ini diidentikkan dengan kekerasan dan perpeloncoan menjadi momok dalam setiap pelaksanaannya, sehingga permasalahan ini menjadi perhatian utama kami dalam menciptakan konsep dan pada pengawalan pelaksanaan kegiatan pengkaderan. Kecenderungan yang terjadi belakangan ini telah menuju ke arah positif, budaya primitif tersebut dapat digantikan dengan budaya yang menonjolkan semangat kebersamaan dan intelektualitas. Proses pengkaderan inilah yang menjadi poin penting dalam kerja organisasi yang kemudian bertujuan menjaga nilai luhur dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang semakin tereduksi ataupun tergeser oleh hal-hal yang bersifat pragmatis. Tanpa pengkaderan mustahil nilai luhur dalam Tri Dharma

Perguruan Tinggi dapat tersalurkan dengan baik.
Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unhas (SEMA FE-UH) merupakan organisasi kemahasiswaan yang berorientasi kepada pembangunan karakter mahasiswa sebagaimana yang tercermin dalam Tri Dharma perguruan Tinggi. Sebagaimana visi SEMA FE-UH periode 2011-2012 yaitu Peningkatan Mutu dan Kapasitas Kader Melalui Penguatan Basic Keilmuan menuju Penguatan Kelembagaan Sebagai Bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat. Semangat intelektualitas menuju pengabdian kepada masyarakat menjadi inti dari visi yang dibawa SEMA FE-UH. Maka dari itu, proses pengkaderan yang dilakukan oleh SEMA FE-UH bertujuan untuk menanamkan semangat intelektualitas serta pengabdian kepada masyarakat pada setiap kadernya. SEMA FE-UH memiliki empat tahapan pengkaderan yang ditetapkan untuk semua kadernya yaitu, Pengkaderan Awal tingkat SEMA FE-UH, Pengkaderan Awal tingkat ORMAJU (Organisasi Mahasiswa Jurusan), Pra Latihan Kepemimpinan, dan Latihan Kepemimpinan. Dalam tiap tahapan tersebut terdapat beberapa penekanan yang berbeda. Pengkaderan awal tingkat SEMA FE-UH lebih diarahkan pada pengenalan lingkungan kampus. Tidak bisa dipungkiri bahwa peralihan dari masa SMA sampai kepada kuliah memerlukan beberapa bentuk penyesuaian. Maka dari itu, Pengkaderan Awal tingkat SEMA FE-UH ingin mengenalkan gambaran mahasiswa sebagaimana amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pengkaderan Awal tingkat SEMA FE-UH untuk tahun ini bernama KAPITAL (Kaderisasi; Penanaman Nilai Tahap Awal) 2011, dengan tema Membangun Relasi Intelektualitas menuju Konsistensi Berlembaga dalam Khazanah Kemanusiaan. Dari tema ini ada beberapa poin yang ingin ditekankan seperti, membangun relasi intelektualitas, konsistensi berlembaga, dan dibingkai dalam khazanah kemanusiaan. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, kami ingin mengenalkan gambaran mahasiswa yang ideal. Pembangunan relasi intelektualitas berbicara tentang bagaimana membangun semangat intelektualitas mahasiswa sebagaimana ciri khas mahasiswa itu sendiri dan tentunya harus dengan ciri mahasiswa ekonomi yaitu dengan basis keilmuan ekonomi. Basis keilmuan itu sendiri harus dilengkapi dengan pembangunan kesadaran kritis, hal ini dimaksudkan agar dalam mengkaji segala fenomena yang ada kita akan berpikir lebih analitis, objektif, dan kritis. Maksudnya adalah dengan kesadaran kritis seseorang akan menelaah suatu fenomena secara lebih mendalam dan sifatnya menyeluruh. Jadi, basis keilmuan ekonomi bisa dihubungkan dengan berbagai fenomena yang ada baik itu dalam ranah politik, budaya, hukum, dan sebagainya. Membangun kebersamaan antara seluruh mahasiswa menjadi salah satu poin untuk tahap ini sehingga diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang timbul akibat perbedaan-perbedaan etnis, ras, suku, maupun agama. Setelah pembangunan intelektualitas dicapai maka diharapkan kader yang terbentuk adalah kader yang mempunyai konsistensi berlembaga. Konsistensi berlembaga yang dimaksudkan adalah kader yang dengan intelektualitasnya mempunyai integritas yang dapat diandalkan untuk turut membangun Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi UNHAS dalam mencapai tujuannya. Tampakan kader yang dilihat disini adalah kader yang memiliki kedisiplinan serta tanggung jawab akan segala kapasitas yang dimilikinya. Terakhir adalah seluruh proses ini dibingkai dalam khazanah kemanusiaan dimana diharapkan dari proses ini tercipta manusia-manusia yang dengan segala potensinya dapat berpengaruh di lingkungan sekitarnya.

Nama Kegiatan
KAPITAL 2011 (Kaderisasi; Penanaman Nilai Tahap Awal) 2011,

Tema Kegiatan
Membangun Relasi Intelektualitas menuju Konsistensi Berlembaga dalam Khazanah Kemanusiaan.

Tujuan kegiatan
Prosesi Penerimaan Mahasiswa Baru dan Pengenalan Kondisi Kampus