BIAYA MAHAL WACANA KENAIKAN HARGA BBM
Oleh: Usman Saleh La Ede (Ketua SEMA FE-UH 2011-2012)
Sekitar awal maret pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik diumumkan oleh pemerintah telah menjadi malapetaka baru bagi masyarakat indonesia. Sebelum tanggal efektifnya ditetapkan kenaikan harga itu yang mulai tanggal 1 april 2012, banyak hal yang telah terjadi dan menjadi pendahulu kenaikan harga BBM. Mungkin ini adalah hal yang tidak pernah menjadi pertimbangan bagi pemerintah. Gejolak akibat digulirkannya wacana menaikkan harga BBM dengan kenaikkan rata-rata 1.500 rupiah/liter telah membawa masyarakat dan pemerintah kepada hal yang tentunya tidak diinginkan bersama. Biaya yang harus ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat akibat wacana itu adalah semakin membengkaknya biaya yang dibutuhkan untuk meloloskan wacana kenaikan harga BBM itu sendiri.
Dengan lahirnya kebijakan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi telah mendorong pemerintah untuk menambah biaya untuk mengamankan kebijakan ini. Mulai dari biaya untuk membahasnya di badan anggaran DPR sampai pada paripurna DPR. Biaya ini tentunya masyarakat tidak mengetahui seberapa besar biaya yang digelontorkan utuk membahas sebuah kebijakan. Selain itu pemerintah juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membiayai pihak keamanan untuk bekerja ekstra keras dalam mengamankan segala bentuk kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Ataukah logika mengerahkan puluhan ribu pihak militer baik polisi maupun tentara adalah logika bisnis yag harus dijalankan. Jika itu adalah logika bisnis maka semuanya adalah demi kepentingan bisnis militer karena jika militer turun kejalan maka secara otomatis kebutuhan logistik militer untuk mengamankan sebuah kebijakan akan ditambah. Jadi yang mendapatkan keuntungan dari kebijakan ini adalah perusahaan asing yang bermitra sama pemerintah dan bukan rakyat. Bisnis logistik militer dalam setiap pengambilan kebijakan yang mungkin akan mendapatkan penentangan dalam masyarakat luas sudah menjadi keniscayaan dan militer pun akan selalu menguji coba sebagian peralatan militernya kepada masyarakat dan penyuplai pun akan mendapatkan keuntungan dengan huru-hara yang terjadi dalam masyarakat akibat sebuah kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Itu baru dari sisi pemerintah, bagaimana dari sisi masyarakat? Jika kita terus memperhatikan bagaimana pemerintah mengambil kebijakan menaikkan harga BBM maka sebelumnya telah didahului oleh kenaikan harga-harga. Harga sembako telah melambung tinggi, ongkos kendaraan telah mendahului naik, BBM menjadi langka dalam masyarakat, biaya makan menjadi naik, dan semuanya menjadi barang mahal sebelum kebijakan itu diberlakukan. Masyarakat yang menentang kebijakan itu akan mengeluarkan biaya untuk membiayai segala proses penentangan, tapi selama itu menjadi kebutuhan masyarakat maka masyarakat tidak akan mempedulikan biaya yang harus dibayar sesaat untuk menyelamatkan kehidupan banyak orang dalam jangka panjang. Korban yang berjatuhan akibat saling berhadap-hadapannya masyarakat-mahasiswa-polisi dalam demonstrasi penentangan kebijakan kenaikan harga BBM menjadi tinggi karena hampir setiap demonstrasi menuju pada benturan fisik. Selain kerugian material harus dibayar mahal, kerugian non material pun harus ditanggung oleh masyarakat dan mahasiswa. Logika itupun hanya mengorbankan masyarakat dan mahasiswa yang hanya bersenjatakan megafon, spanduk kata-kata, spanduk perangkat aksi lainnya harus berlawanan dengan gas air mata, water canon, peluru karet dan senjata militer lainnya.
Bagaimana dengan pegawai negeri rendahan, buruh, atau mereka yang bekerja di instansi pemerintahan? Jika buruh dan pegawai yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta belum lama menikmati kenaikan gaji mereka dan sekarang diperhadapkan dengan kenaikan harga barang-barang dengan kenaikan harga bahan bakar minyak maka sebenarnya gaji yang mereka terima tidak ada artinya karena harga kebutuhan telah melambung lebih dahulu. Jadi yang sengaja menciptakan huru-hara dalam masyarakat adalah pemerintah itu sendiri. Ketika huru-hara sudah terjadi dalam masyarakat maka akan ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dalam huru-hara tersebut. Perusahaan yang bergerak dalam militer akan terus mengucurkan peralatan militer kepada pihak keamanan, perusahaan yang bergerak dalam sektor BBM akan meraup keuntungan lebih tinggi dan pengusaha-pengusaha kelas atas. Selain itu, strategi ini bisa menjadi alat untuk mengembalikkan citra politik penguasa ditengah keterpurukan yang melanda pemerintahan.
Kerugian akibat kebijakan dan huru hara itu akan ditanggung oleh masyarakat. Masyarakat yang akan menanggung biaya akibat kerugian itu dengan memberikan subsidi kepada negara dengan melalui pajak masyarakat dan bukan negara yang mensubsidi masyarakat. jadi logika yang hadir adalah negara hadir sebagai penindas bagi rakyatnya sendiri. Biaya perjuangan masyarakat memang sangat mahal, tapi itu adalah untuk masa depan anak-cucu dan orang lain yang akan hidup berpuluh-puluh tahun kemudian.. Teruslah untuk berjuang!!!
Tamalanrea, 28 Maret 2012 pukul 12.22
Visi:
"PENINGKATAN MUTU DAN KAPASITAS KADER MELALUI PENGUATAN BASIC KEILMUAN DAN BUDAYA ILMIAH MENUJU PENGUATAN KELEMBAGAAN SEBAGAI BENTUK PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT"
Misi:
1. PENGUATAN BASIC INTELEKTUALITAS DAN BUDAYA ILMIAH DARI KADER
2. MENUMBUHKAN SEMANGAT BERLEMBAGA KEMA MELALUI PROSES PENGKADERAN DAN PERGERAKAN
3. MEMBANGUN HUBUNGAN KOMUNIKASI YANG BAIK ANTAR KEMA EKONOMI.
Sabtu, 31 Maret 2012
TIPOLOGI MAHASISWA
TIPOLOGI MAHASISWA
Oleh: Usman Saleh La Ede (Ketua SEMA FE-UH 2011-2012)
Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang sangat unik. Unik karena semua pelajar yang ada di Indonesia hanya kelompok merekalah yang menyandang status maha. Ditangan mereka pula perubahan di negeri ini tergenggam. Di dalam diri mereka pengetahuan itu tersimpan. Tetapi tidak sedikit dari mereka menjadi pengkhianat di negeri ini. Dengan pengetahuannya mereka mengkhianati kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Di tangan mereka pengetahuan diperdebatkan. Di tangan mereka para rezim ditumbangkan. Di tangan mereka juga penindasan dilanggengkan. Di dalam jiwa mereka keangkuhan terpatri. Tapi diantara semua itu tentunya kita masih punya harapan. Harapan untuk bangkit, harapan untuk menatap masa depan yang cerah. Dibawah ini ada beberapa tipologi mahasiswa yang coba diidentifikasi dalam sebuah seminar wawasan kebangsaan dengan tema “pemuda dan ideologi bangsa” dan diklasifikasikan dalam beberapa bagian, yaitu:
Pertama, Mahasiswa ideologis adalah orang yang mempunyai pegangan yang kuat mengenai jalan kesempurnaan dan dalam setiap aktivitasnya selalu konsisten pada nilai yang dipegangnya. Pada dasarnya mahasiswa seperti ini [ideologis] sangat sedikit dalam kampus dan cenderung ditinggalkan oleh temannya yang tidak sepaham. Mereka biasanya berbagi tugas dalam sebuah gerakan. Mahasiswa ideologis selalu berbicara masalah kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Mereka terus memperjuangkan hal itu dan sangat jarang kita akan menemukan mereka berada dalam penyimpangan antara apa yang dikatakan dan diperbuatnya. Kelompok mereka ini akan selalu menjadi perdebatan karena kehidupannya menyimpang dari kehidupan mahasiswa pada umumnya yang lebih banyak diam walaupun nyawanya sudah mau dicabut dan suka hura-hura.
Kedua, Mahasiswa organisatoris adalah orang yang berada dalam sebuah organisasi yang selalu berjalan dengan rutinitas keseharian dan dalam setiap aktivitas keseharian tidak memiliki tujuan jangka panjang. Pada dasarnya mereka adalah kelompok yang lebih besar dari kelompok mahasiswa ideologis. Jadi dalam setiap aktivitasnya mereka hanya ingin menyelesaikan dan memikirkan masalah yang tampak dipermukaan sebagaimana yang sering dilakukan pemerintah. Mahasiswa seperti ini kecenderungan kuatnya pada pragmatisme dan individualisme yang hanya memikirkan apa yang akan diperbuat sekarang dan besok dan apa keuntungannya. Ketika keuntungan bagi dirinya tidak ada maka kegiatan itu tidak akan berjalan maksimal dan asal-asalan saja atau tidak ada keikhlasan dalam segala aktivitasnya untuk orang lain. Untuk memikirkan apa yang harus diperbuat hari ini dan dampaknya satu tahun atau beberapa tahun kedepannya sangat minim. Dalam kuliahpun mereka hanya mempelajari apa yang disampaikan sama penceramah yang sangat terikat dari satu buku [dosen] dan jarang untuk memikirkan secara mendalam dari ceramah yang didapatkan dari penceramah yang menjadi dogma.
Ketiga, Mahasiswa penggembira adalah orang yang berada dalam sebuah kampus hanya untuk menjadi penonton dan penggembira bagi orang lain. Pada dasarnya mereka tidak punya ideologi yang jelas dan orientasi kehidupan juga yang tidak jelas. Mahasiswa seperti ini tidak mau berpikir lebih filosofis dan lebih mengikut atau larut dalam realitas sehingga kecenderungannya pada pragmatisme, hedonisme dan individualisme. Kelompok mahasiswa seperti ini muncul ketika ada kegiatan yang tingkat aktualisasi individu-individu sangat tinggi. Misalnya pada saat Ospek dan Bina Akrab atau juga hanya ada pada saat ada acara makan-makan. Jumlah mereka sangat banyak bahkan merupakan kelompok dominan dalam kampus. Mereka kurang mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan kampus yang tingkat aktualisasi dirinya sangat rendah [lebih suka hura-hura].
Keempat, Mahasiswa preman adalah orang-orang yang berlagak seperti jagoan dalah artian secara fisik dan mereka menganggap diri sebagai orang-orang yang paling berkuasa dan menjadi sosok menakutkan dalam kampus. Kelompok ini tidak punya pegangan ideologi yang kuat dan kecenderungannya pula pada pragmatisme. Mereka biasanya jago ketika berkelompok. Mereka adalah kelompok yang kecil dan selalu membuat permasalahan. Mereka selalu berjalan atas nama solidaritas kelompok dan biasa orang menamakannya sebagai solidaritas buta. Mereka biasa ditemui ketika pada saat-saat ospek, bina akrab dan tawuran untuk aktualisasi diri dan setelah melakukan “ritual preman” mereka lari dan tidak mempertanggungjawabkan tindakannya, mereka juga biasa disebut sebagai preman kesiangan. Biasanya mahasiswa seperti ini susah untuk diajak diskusi dalam menyelesaikan masalah ketika kebencian dalam dirinya memuncak dan segala permasalahan dengan orang lain harus diselesaikan dengan kekerasan fisik.
Catatan atas seminar wawasan kebangsaan oleh KEMASOS
Oleh: Usman Saleh La Ede (Ketua SEMA FE-UH 2011-2012)
Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang sangat unik. Unik karena semua pelajar yang ada di Indonesia hanya kelompok merekalah yang menyandang status maha. Ditangan mereka pula perubahan di negeri ini tergenggam. Di dalam diri mereka pengetahuan itu tersimpan. Tetapi tidak sedikit dari mereka menjadi pengkhianat di negeri ini. Dengan pengetahuannya mereka mengkhianati kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Di tangan mereka pengetahuan diperdebatkan. Di tangan mereka para rezim ditumbangkan. Di tangan mereka juga penindasan dilanggengkan. Di dalam jiwa mereka keangkuhan terpatri. Tapi diantara semua itu tentunya kita masih punya harapan. Harapan untuk bangkit, harapan untuk menatap masa depan yang cerah. Dibawah ini ada beberapa tipologi mahasiswa yang coba diidentifikasi dalam sebuah seminar wawasan kebangsaan dengan tema “pemuda dan ideologi bangsa” dan diklasifikasikan dalam beberapa bagian, yaitu:
Pertama, Mahasiswa ideologis adalah orang yang mempunyai pegangan yang kuat mengenai jalan kesempurnaan dan dalam setiap aktivitasnya selalu konsisten pada nilai yang dipegangnya. Pada dasarnya mahasiswa seperti ini [ideologis] sangat sedikit dalam kampus dan cenderung ditinggalkan oleh temannya yang tidak sepaham. Mereka biasanya berbagi tugas dalam sebuah gerakan. Mahasiswa ideologis selalu berbicara masalah kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Mereka terus memperjuangkan hal itu dan sangat jarang kita akan menemukan mereka berada dalam penyimpangan antara apa yang dikatakan dan diperbuatnya. Kelompok mereka ini akan selalu menjadi perdebatan karena kehidupannya menyimpang dari kehidupan mahasiswa pada umumnya yang lebih banyak diam walaupun nyawanya sudah mau dicabut dan suka hura-hura.
Kedua, Mahasiswa organisatoris adalah orang yang berada dalam sebuah organisasi yang selalu berjalan dengan rutinitas keseharian dan dalam setiap aktivitas keseharian tidak memiliki tujuan jangka panjang. Pada dasarnya mereka adalah kelompok yang lebih besar dari kelompok mahasiswa ideologis. Jadi dalam setiap aktivitasnya mereka hanya ingin menyelesaikan dan memikirkan masalah yang tampak dipermukaan sebagaimana yang sering dilakukan pemerintah. Mahasiswa seperti ini kecenderungan kuatnya pada pragmatisme dan individualisme yang hanya memikirkan apa yang akan diperbuat sekarang dan besok dan apa keuntungannya. Ketika keuntungan bagi dirinya tidak ada maka kegiatan itu tidak akan berjalan maksimal dan asal-asalan saja atau tidak ada keikhlasan dalam segala aktivitasnya untuk orang lain. Untuk memikirkan apa yang harus diperbuat hari ini dan dampaknya satu tahun atau beberapa tahun kedepannya sangat minim. Dalam kuliahpun mereka hanya mempelajari apa yang disampaikan sama penceramah yang sangat terikat dari satu buku [dosen] dan jarang untuk memikirkan secara mendalam dari ceramah yang didapatkan dari penceramah yang menjadi dogma.
Ketiga, Mahasiswa penggembira adalah orang yang berada dalam sebuah kampus hanya untuk menjadi penonton dan penggembira bagi orang lain. Pada dasarnya mereka tidak punya ideologi yang jelas dan orientasi kehidupan juga yang tidak jelas. Mahasiswa seperti ini tidak mau berpikir lebih filosofis dan lebih mengikut atau larut dalam realitas sehingga kecenderungannya pada pragmatisme, hedonisme dan individualisme. Kelompok mahasiswa seperti ini muncul ketika ada kegiatan yang tingkat aktualisasi individu-individu sangat tinggi. Misalnya pada saat Ospek dan Bina Akrab atau juga hanya ada pada saat ada acara makan-makan. Jumlah mereka sangat banyak bahkan merupakan kelompok dominan dalam kampus. Mereka kurang mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan kampus yang tingkat aktualisasi dirinya sangat rendah [lebih suka hura-hura].
Keempat, Mahasiswa preman adalah orang-orang yang berlagak seperti jagoan dalah artian secara fisik dan mereka menganggap diri sebagai orang-orang yang paling berkuasa dan menjadi sosok menakutkan dalam kampus. Kelompok ini tidak punya pegangan ideologi yang kuat dan kecenderungannya pula pada pragmatisme. Mereka biasanya jago ketika berkelompok. Mereka adalah kelompok yang kecil dan selalu membuat permasalahan. Mereka selalu berjalan atas nama solidaritas kelompok dan biasa orang menamakannya sebagai solidaritas buta. Mereka biasa ditemui ketika pada saat-saat ospek, bina akrab dan tawuran untuk aktualisasi diri dan setelah melakukan “ritual preman” mereka lari dan tidak mempertanggungjawabkan tindakannya, mereka juga biasa disebut sebagai preman kesiangan. Biasanya mahasiswa seperti ini susah untuk diajak diskusi dalam menyelesaikan masalah ketika kebencian dalam dirinya memuncak dan segala permasalahan dengan orang lain harus diselesaikan dengan kekerasan fisik.
Catatan atas seminar wawasan kebangsaan oleh KEMASOS
Langganan:
Postingan (Atom)